Post Top Ad

01.09

Kota Tahu : Sumedang yang kini makin buricak burinong #writingthon jelajajahi sumedang

by , in
Assalamualikum semuanya~
Kalau ingat tahu, pasti ingetnya kota Sumedang ya?? sejak kecil aku sering sekali melihat penjaja makanan dipinggir jalan yang menjual penganan dengan suaranya yang khas :

"tarahuuu...tarahuu...kacanggg...kacanggg...mezoonn....mezzooonn"
Aku sendiri cukup sering mengunjungi Kota Sumedang, lebih tepatnya lewat apabila ingin mengunjungi Bandung via Sumedang. Dan yang selalu aku ingat adalah jalan berkelak_kelok apalagi kalau bukan Cadas Pangeran. Letaknya yang berbatasan dengan kota yang aku tinggali sekarang yaitu Indramayu, membuatku sering melewati kota kecil nan syahdu ini. Dan benar saja, setiap melewati Sumedang, tak lupa aku selalu mengunjungi resto tahu legenda yaitu Tahu Palasari. Tahu hangat yang baru digoreng, plus sambal tauconya yang slurrpppp bikin napsu makan semakin meningkat. Ah jadi kangen Tahu Palasari kan!
Tahu Palasari, tahu legenda di Sumedang. Tahu hangat plus sambal tauconya bikin gak tahan.

Berhubung aku hanya melewatinya, lama-lama aku semakin penasaran dengan pesona kota yang diapit oleh 4 kabupaten ini, yaitu dari utara diapit oleh Indramayu, dari timur diapit Majalengka, dari barat diapit Bandung dan Subang, dan dari selatan diapit oleh Garut. Kontur tanahnya yang pegunungan dan hawanya yang masih asri juga membuat Sumedang mempunyai pesona sendiri.
Kalau ngomong potensi alam di Sumedang, kayaknya gak bakal habis deh. Ada wisata alam seperti Kampoeng Ciherang, Kampung Toga, Mata Air Cikadung, Puncak damar Jatigede dan masih banyak lagi! Salah satunya Sumedang juga memiliki waduk yang cukup besar yaitu waduk Jatigede. Waduk terbesar kedua se-Asia Tenggara ini selain berfungsi sebagai tempat penampungan air, juga berfungsi sebagai PLTA (Pembangkit Listrik Tenaga Air). Selain itu, ada pula kawasan wisata disekitar Waduk Jatigede yaitu Kampung Buricak Burinong. Kampung yang dicat berwarna-warni, membuat kawasan Waduk Jatigede makin cantik!

Dua kampus ternama di Sumedang, IPDN & Unpad

Seiring perkembangan zaman, kini Sumedang banyak diisi oleh pemuda-pemudi yang semakin kreatif. Apalagi kalau kita tau, wilayah Sumedang yang berbatasan dengan Bandung memiliki 2 kampus yang sangat bergengsi, IPDN dan Unpad yang terletak di wilayah Jatinangor, Kab. Sumedang. Salah satunya yang berdampak adalah menciptakan tempat-tempat berkumpul alias cafe yang hits buat sekedar nongkrong dan bercengkrama. Para insan kreatif di Sumedang ini mencoba menghidupkan suasana Sumedang agar lebih modern dan mampu mengikuti arus perkembangan zaman. Nah untuk itu aku ada beberapa rekomendasi cafe hits yang ada di Sumedang :
Hej House 
Kafe yang terletak di Jl, Anggrek no. 97 Sumedang ini gak cuma untuk tempat makan aja lho. Disini juga sering mengadakan pameran dan live music yang diisi insan-insan kreatif di Sumedang dan sekitarnya. Ambience yang dibuat adalah industrian look yang modern dan simpel. Untuk menu andalan adalah kopi dan makanan khas Indonesia seperti ayam taliwang. 

SPOT ON Cafe & Carwash
Bergeser ke sebelah pas Hej House, ada Spot On cafe & carwash yang mengandalkan wisata selfie dan makan. Dengan dihias payung warna-warni, membuat cafe ini jadi pas banget buat muda-mudi yang pengen berselfie-ria, plus langsung upload deh ke Instagram!

Plumeria Cafe
Bergeser sedikit ke daerah Jatinangor, cafe hits satu ini sangat instagramable. Selain menyajikan berbagai menu lokal & western, suasananya yang mencampurkan unsur moder dan alam bakal bikin betah berlama-lama disini. Apalagi kalau buat selebgram, bisa sambil foto endorse nih di cafe hits satu ini.
Selain tempat cafe hits, aspek penunjang lainnya untuk wisatawan datang ke Sumedang adalah faktor penginapan. Terdapat beberapa hotel yang bisa mengakomodasi istirahat setelah seharian lelah berkeliling di kota tahu ini.
Hotel Asri Sumedang
Terletak dalam satu kawasan dengan mall Plaza Asia di tengah-tengah kota Sumedang, Hotel Asri mengakomodir para wisatawan untuk sekedar beristirahat atau staycation. Suasana yang tenang walau di tengah kota membuat Hotel Asri ini banyak diminati wisatawan. Fasilitasnya juga lengkap, mulai dari ballroom, swiming pool, fitness center dll.
Toga Camping Park
Buat yang pengen ngerasain camping di alam terbuka, tapi males harus mendirikan tenda, solusinya coba menginap di Toga Camping Park. Kalau bahasa kekiniannya sih, disebut dengan glamping alias glamour camping. Terletak di kawasan Kampung Toga, kota bisa menikmati pemandangan alam Sumedang, menikmati bermain air dan bahkan bisa mengikuti aktivitas outdoor paralayang, lengkap banget kan!
Untuk yang berencana ke kawasan Jatinangor, gak perlu pusing-pusing cari penginapan. terdapat beberapa hotel budget, salah satunya RedDoorz near Jatinangor Town Square. Hotel budget yang lengkap dengan swiming pool ini bisa jadi pilihan untuk yang mau sekedar beristirahat setelah mendatangi event spesial seperti wisuda.
Sumedang kini bukan lagi kota kecil yang hanya terkenal dengan tahu dan Cadas Pangeran, kota ini kini menjelma menjadi kota cantik dengan berbagai pesonanya. Bahkan kini sudah ada Bis Wisata Tampomas yang bisa memfasilitasi kita berkeliling kota Sumedang.
Apalagi kedepannya Pemerintah Sumedang sudah merencanakan mempercantik kotanya, salah satunya jantung kota Alun-alun Kota Sumedang yang akan dilengkapi dengan berbagai fasilotas seperti taman terbuka, wifi, perpustakaan dan berbagai fasilitas keren lainnya. Yiuk sama-sama kita dukung agar Sumedang semakin cantik dan modern.
Tulisan ini ditulis untuk mengikuti kontes Writingthon Jelajahi Sumedang










18.20

Pengalaman umroh saat hamil 7 bulan #Hijrah bersama Aishaderm (part 2)

by , in
Ketika persiapan umroh sudah lengkap, ada hal penting banget yang perlu dipertimbangkan yaitu konsultasi dokter kandungan. Jauh-jauh hari aku sudah bilang ke dokterku kalau mau umroh, jadi kira-kira 1 minggu sebelum keberangkatan aku konsul sekalian minta surat ijin terbang. Kalau memang dokter mengatakan tidak ada masalah dikandungan, janin sehat dan aku dirasa kuat maka dokter akan mengijinkan. Tapi kalau memang dokter tidak mengijinkan mending jangan ambil resiko, soalnya aku denger ada peserta umroh sampai harus lahiran di wc hotel di Mekah, padahal usia kandungan masih 7 bulan, kasian kan ribet ngurusnya kalau lahir di sana.
Foto diatas rooftop Masjidil Haram dengan background Tower Zam-zam, pas dengan usia kandunganku menginjak 7 bulan
Oh ya, tiap maskapai penerbangan punya ketentuan usia kandungan untuk ijin terbang. Karena aku menggunakan Garuda, usia maksimal terbang adalah 32 minggu alias 8 bulan. Jadi bisa dibilang aman karena saat berangkat usia kandunganku pas banget 27 minggu alias 7 bulan. Tibalah hari H keberangkatan umrohku dan suami, dokumen yang perlu disiapkan ditunjukan saat check in adalah adalah surat ijin terbang. Aku pikir bakal gimana-gimana ternyata sama petugasnya cuma dilihat sekilas aja huhuhu.
Kemudian yang perlu disiapkan adalah fisik karena perjalanan pesawat cukup lama, yaitu 9 jam karena pesawatku tanpa transit. Senangnya aku dapat seat samping jendela plus ini pengalaman pertama kali naik pesawat jadi segala nervous dan ketakutan hilang, yang ada adalah kenorakan hahaha. Alhamdullilah selama 9 jam itu tidak ada masalah kecuali sering bolak-baik wc karena gampang pipis, itung-itung sambil jalan-jalan biar kaki gak bengkak.
Nah ternyata tidak semua semulus itu ferguso, karena begitu datang rute dari travel adalah langsung ibadah umroh. Aku yang terhitung jetlag, begitu datang langsung ibadah. Lalu lokasi hotelku sekitar 500 m dari Masjidil Haram yaitu dibelakang tower zam-zam masih naik lagi, lumayan juga bagi ibu hamil yang sebelum hamil aja jarang jalan jauh hehehe.
Sebelum ibadah umroh wajib, foto dulu di depan tower zam-zam
Ibadah umroh wajib adalah Tawaf-Sa'i-Tahallul, karena masih terbawa perasaan, masuk kawasan Masjidil Haram aku nangis, apalagi pas Tawaf liat Ka'bah secara langsung. Alhamdullilah Tawaf berjalan lancar dan tidak berdesakan karena saat itu kelompokku melaksankan setelah Isya. Nah tibalah saat Sa'i, aku sudah mempelajari total berjalan adalah sekitar 3,8 km dari 7 putaran Safa-Marwah. Yang bikin mungkin kurang nyaman adalah kecepatan jalan dari ustad yang mendampingi. Dengan beban kandungan 7 bulan, efek jetlag, dan jarang jalan kaki jauh. Plus speed jalannya yang lumayan kenceng, walhasil langsung kerasa di pinggang ke bawah itu rasanya waw banget. Saking waw nya sampai pas nyampe hotel dan tidur, malamnya aku ngelindur kesakitan (itu kata teman sekamarku). Kalau boleh jujur itu sakitnya lumayan banget, hampir mirip lah sama sakit kontraksi. Apalagi aku cuma bawa suplemen seperti zat besi dan kalsium, gak bawa pereda nyeri dan sejenisnya, apalagi rada takut konsumsi seperti hemaviton atau fatigon karena tidak disarankan untuk ibu hamil.
Akhirnya solusinya, aku nyari salep pereda nyeri karena aku lupa bawa salep sampai koyo. Dan disana susah banget nyari balsem dan kawan-kawannya. Untungnya saat belanja di supermarket Al-Baraj (tower zam-zam lantai 4) aku menemukan salep pereda nyeri. Awalanya skeptis sih kayaknya bakal biasa aja efeknya kayak balsem biasa. Ternyata hasilnya benar-benar meredakan sakit dan enaknya tanpa ada rasa panas dan lengket. Kalau kalian ada kesempatan buat ibadah Umroh/Haji, carilah salep ini ya karena aku nyesel cuma beli 1 aja, disini gak ada yang jual hehehe. Namanya Moov Rapid Relief ya kalau ada yang penasaran.
Sebagai pengingat berikut dokumentasi foto-foto selama disana, oh ya bebas kok bawa smartphone ke Masjidil Haram, asal tau diri aja ya, jangan sampai mengangu orang lain.
 Di rooftop, minta fotoin sama mbak-mbak arab, ngobrolnya pakai bahasa kalbu
 Saat mau ibadah umroh kedua, perjalan mau ambil miqat
 Foto bareng merpati di terminal bis dekat hotel
Minta fotoin sama asgar alias security disana, mintanya baik-baik ya soalnya rada galak
 Foto pakai timer biar bisa dapat view lebih jelas
Foto dengan pemandangan esklator untuk menuju rooftop
 
Satu-satunya kedai ice cream paling dekat dari Masjidil Haram, rasanya alhamdulilah nikmat.
Mengunjungi Jabal Rahmah.
Potong gundul, biayanya 10 riyal
Ibadah wajib di kota Mekah sudah selesai, akhirnya harus berpisah dengan kota tercinta ini, hari ke 5 kita berangkat ke Madinah. Perjalanan memakan waktu 6 jam, karena jaman sekarang bis nya sudah bagus jadi gak kerasa sama sekali perjalanan jauh. Sampai Madinah kira-kira tengah malam dan untungnya lokasi hotel lebih dekat dengan Mesjid.
Malam pertama saat tiba di Madinah
Tantangan kedua yaitu paginya kita akan ke Raudah, yaitu taman surga yang ada didalam masjid Nabawi. Nah disitu aku teringat pernah iseng nonton video Youtube tips masuk Raudah. Salah satunya pakai jalur kursi roda, karena memang ada jalurnya sendiri dan tempat di Raudahnya juga terpisah. Aku sendiri berpikir memilih jalur kursi roda karena kalau via jalur biasa bakal berdesakan, aku berpikir disini adalah keselamatan janinku. Kebetulan juga di rombonganku ada yang menggunakan kursi roda, jadi aku menawarkan diri untuk mendorongnya, dibandingkan kalau aku harus ikut mengantri barisan biasa.
 Nenek yang aku dorong kursi rodanya. 
Antrian Raudah khusus kursi roda.
Foto suasana antrian Raudah bagian laki-laki
Sesaat setelah mengunjungi Raudah, khusus kursi roda ada dibawah mimbar dan gak bercampur dengan antrian Raudah biasa.

Dari pengalaman yang aku dapatkan setelah ikut antrian kursi roda adalah kita punya track khusus dan gak harus berdesak-desakan. Lalu jalur kursi roda itu lebih tertib, walaupun memang pasti ada aja yang modelnya nyelak-nyelak barisan. Lokasi Raudah khusus kursi rodanya sendiri terpisah dan khusus untuk kursi roda lebih luas dan waktu yang disediakan berdoa lebih lama dan gak disuruh cepet-cepet bangun. Aku hitung kayaknya sam[ai 5 menit sendiri aku ada di karpet hijau Raudah. Tips ini bisa dicoba kalau dalam rombongan  kalian ada yang menggunakan kursi roda, seenggaknya kita membantu mereka dan kita bisa sedikit lebih lama di Raudah :-)

Detik-detik suamiku sebelum jatuh sakit :-(

Nah kebalikannya sama suami aku, dia jatuh sakit sesaat setelah keluar Raudah. Badannya menggigil hebat dan muntah-muntah. Tebakannku karena suhu nya yang cukup drastis dan dingin yang nyekit banget, anginnya juga kencang. Walhasil selama di Madiha, suami lebih banyak istrirahat di kamar. Aku sendiri sebagai istri galau antara mau ninggalin suami di kamar atau ibadah. Tapi aku pikir lagi, kemarin di Mekah suamiku udah jaga aku, sekarang gantian aku yang jaga suami, toh merawat suami yang sakit juga salah satu bentuk ibadah. Jadi selama di Madinah aku banyaknya ke kamarku-kamar suami-restoran bawain makanan. Mau keluar sendiri dari hotel ke mesjid aku juga takut, mau ikut rombongan kamarku udah pada berangkat duluan.
Di hotel aja deh selama 2 hari


Tapi untungnya setelah 2 hari istirahat total, badan suamiku udah segar kembali, masih pegel-pegel tapi udah bisa beraktifitas seperti biasa. Di hari terakhir di Madinah itu kunjungan ke Mesjid Quba dan wisata kurma. Alhamdullilah semua bisa kita nikmatin berdua, eh bertiga sama dede diperut.
Di kebun kurma, dikiranya gede gitu ya ternyata cuma sepetak kayak kebon belakang rumah :-D

Foto sama kucing di kebun kurma, aku bawa dryfood dong dari Indonesia hehehe
Kesampaian nyobain Al Baik di Madinah, kalian bisa lihat dibawah ini

Dan akhirnya tibalah saat pulang ke Indonesia. Bakal kangen banget sama ibadah umroh tahun kemarin. Dan aku susah banget nyusun kalimat karena buatku ibadah umroh ini kayak mimpi. Dari yang cuma mimpi pengen keluar negeri dari blog, eh malah diturutin sekalian umroh aja.
Intinya sih, semua itu bisa didaptkan dari usaha, dan ini jadi pengingat buatku juga jangan berhenti berkarya dimanapun dan kapanpun, dan jangan lupa berdoa siapa tau dikabulin Allah :-)